Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Rabu, 20 Mei 2015 | 1 Sya’ban 1436 H | Dibaca : 4316 Kali
Madu Sialang Bawa Laura Nurul Alfiola Juara KTI Empat Provinsi di Sumatera
Penulis
Reporter
Siswa kelas XI SMA Babussalam ini menjadi yang terbaik di ajang Karya Tulis Ilmiah (KTI) tentang Jejak Tradisi Daerah (Jetrada) yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Tanjung Pinang. Final lomba KTI ini dilaksanakan pada 14-17 April 2015 di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung.
Ya karya tulis Laura terpilih menjadi juara satu dari 50 karya tulis yang masuk ke panitia. Awalnya panitia mengirim undangan lomba kepada 80 sekolah di empat provinsi yakni Riau, Kepri, Jambi, dan Bengka Belitung. Empat provinsi ini menjadi wilayah kerja dari BPNB Tanjung Pinang.
Seperti diceritakan Laura, dari 50 karya yang masuk panitia memilih enam karya dengan nilai tertinggi. Laura menjadi satu-satunya wakil Riau. Lainnya dua dari Jambi, dua dari Kepri dan satu lagi dari Babel.
''Enam inilah yang diundang penitia sebagai finalis untuk melakukan uji presentasi di depan tiga juri dan peserta lokal,'' ungkap siswa yang selalu menjadi juara umum sejak di SMP Babussalam ini.
O ya hampir lupa. Ini lo judul karya Laura, Madu Sialang Penopang Hidup Masyarakat Kamparkiri Hilir, Kabupaten Kampar.
Dua SMA Babussalam ada dua siswa yang ikut KTI ini. Satu lagi atas nama Fia Amalia yang bercerita tentang Tarian Rentak Bulian.
Karya Laura bicara tentang tradisi sekaligus mata pencaharian sampingan warga Kamparkiri Hilir mencari madu Sialang. Daerah ini memang terkenal dengan produksi madu yang asli. Menurut Luara saat ini ada sekitar 30 pohan Sialang yang tingginya bisa mencapai 25-30 meter. Di pohon-pohon tersebutlah banyak terdapat sarang lebah. Dalam satu pohon bisa terdapat sekitar 50 sarang.
''Pohonnya memang beda. Yang paling tinggi, lurus, daunnya sedikit bagian atas saja. Masyarakat setempat bilang itu keramat,'' komen anak kedua dari lima bersaudara ini.
Mencari madu menjadi mata pencaharian sampingan masyarakat Kamparkiri Hilir. Sebab masyarakat setempat juga memiliki pekerjaan utama seperti bertani.
Di sisi lain, seperti yang dikutip Laura dari bukunya Pak UU Hamidy (budayawan Riau), mengambil madu ini juga punya nilai budayanya. Di sini ada istilah ''Menumbai'' dari kata dasar ''umbai'' yang berarti turun temurun. Sebelum mengambil madu, ada semacam ritual yang dilakukan.
Jadi karya Laura akhirnya mencakup dua tema yakni mata pencaharian dan nilai budaya masyarakat. Ini menjadi berkah bagi Laura yang awalnya hanya fokus pada tema mata pencaharian. Karena itu Laura merasa berterimakasih pada guru pembimbingnya, Yanti Elfina. Bu Yanti-lah yang memberi masukan agar membaca buku Pak UU Hamidy.(li)
Nama : Laura Nurul Alfiola
TTL : Kampung Dalam, 2 Oktober 1998
Ortu : H Alidarman - Hj Fitrianti
Kelas : XI SMA Babussalam
Cita2 : Dokter
Prestasi Lain
- Juara 1 lomba pidato Pekanbaru Rover Scout Camp
- Juara 1 penyelenggaraan jenazah di ajang Pekanbaru Rover Scout Camp (bertiga)
Foto: Laura Nurul Alfiola (dua dari kiri) bersama guru pendampingnya Asnidar (kiri) foto bersama finalis lain.