img
Agenda Kegiatan
Fans Page

Ayo, Mengenali Cara Beternak Ikan Lele Dengan Sistem Bioflok

Dibaca: 43 kali  Kamis,15 Oktober 2020 | 01:35:00 WIB
Ayo, Mengenali Cara Beternak Ikan Lele Dengan Sistem Bioflok
Barangkali belum banyak yang paham apa itu bioflok. Dari segi bahasa, kata tersebut berasal dari dua kata. Bios yang berarti kehidupan. Dan floc yang berarti gumpalan.

Gumpalan yang dimaksud berisi berbagai organisme mulai dari mikroba autotrof dan heterotrof, bakteri, fitoplankton, fungi, ciliata, nematoda, dan sebagainya.

Prinsip kerja bioflok harus dipahami terlebih dahulu sebelum menerapkannya di budidaya ikan. Prinsip ini sebenarnya sederhana, yakni dengan memberikan kebutuhan pakan ikan lele sesuai porsinya menggunakan sekumpulan organisme.

Ikan lele merupakan ikan karnivora. Ia membutuhkan protein dalam jumlah yang besar untuk tumbuh kembangnya. Kadar protein dari pakan yang diberikan pun tidak seutuhnya diserap. Hanya sekitar 20—30 persen pakan ikan lele yang diserap menjadi daging. Selebihnya, terbuang dalam bentuk urine dan feses (kotoran).

Prinsip kerja bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang mengandung karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen menjadi massa lumpur atau sludge. Cara ini didapatkan dengan menggunakan bakteri pembentuk flok yang memiliki sifat biopolymer polihidroksil alkanoat sebagai ikatan bioflok tersebut.

Latar belakang bioflok dilakukan karena kotoran yang dihasilkan lele bisa beracun bagi lele itu sendiri. Proses metabolisme lele menghasilkan amonia. Amonia tersebut akan membentuk total amonia nitrogen atau TAN.

Limbah ini bisa menurunkan kualitas air, bersifat toksik (racun), dan hal terburuk bisa membunuh ikan. Amonia menjadi faktor pembatas kesuksesan budidaya ikan. Pengendalian amonia ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas budidaya.

Bioflok ditujukan memanipulasi aktivitas mikroba untuk mengontrol kualitas air. Mikroba tersebut diharapkan bisa mengubah amonium menjadi protein mikrobial yang mampu mengurangi residu atau sisa pakan.

Limbah nitrogen yang berbahaya diubah menjadi protein bakteri yang bisa dimanfaatkan oleh ikan. Ikan pun akan mendapat protein ganda, yaitu berasal dari pakan dan mikroba. Protein mikroba ini sendiri sebenarnya merupakan protein daur ulang yang didapatkan dari sisa pakan.

Prinsip kerja bioflok memerlukan banyak air. Selain itu, sistem ini juga memerlukan aerasi dan pengadukan yang kuat untuk menjaga suspensi limbah organik agar bisa dicerna oleh bakteri. Bakteri heterotrof aerobik-lah yang akan menggunakan nitrogen, fosfor, dan nutrien lainnya.

Proses tersebut memperbaiki kualitas air. Limbah juga akan tersirkulasi kembali dan diperkaya dengan berbagai bakteri. Partikel flok yang menggumpal ini digumpalkan oleh polisakarida dari bakteri.

Bisa dibilang, prinsip kerja bioflok bisa disamakan dengan biofilter pada kolam biasa. Hal ini karena tidak ada filtrasi eksternal dan bahkan dibutuhkan sedikit atau tanpa pembuangan padatan dari kolam.

Kenapa harus Bioflok?

Ikan lele yang berada dikolam akan menghasilkan feses setiap harinya. Feses ini akan menumpuk dan membuat kondisi air menjadi semakin buruk. Semakin besar, produksi feses akan semakin besar dan semakin cepat. Otomatis kondisi air kolam akan semakin buruk juga.

Secara alami akan muncul mikroorganisme seperti fitoplankton yang bisa memanfaatkan feses ikan ini. Yaitu mengurai kandungan N organiknya.

Tapi apakah fitoplankton saja cukup? Ternyata tidak, dengan adanya jumlah feses yang sangat banyak dan cepat. Butuh bantuan bakteri lain. Supaya kotoran ikan bisa terurai dan tidak mengganggu kehidupan ikan.

Bakteri nitrobacter dan nitrosomonas bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini. Bakteri ini akan mengurai amoniak (NH3) dan Amoniak terionisasi NH4+ menjadi nitrit. Dan oleh nitrobacter, nitrit akan diubah menjadi nitrat (NO3).

lele-bioflok-ok

Hasil akhir dari nitrobacter adalah nitrat. Nitrat tidak bisa dimakan oleh ikan. Dalam jumlah yang banyak akan membuat salinitas air menjadi tinggi.

Tapi nitrat bisa dimanfaatkan oleh tanaman. Nitrogen dalam bentuk nitrat lebih bagus untuk tanaman daripada nitrogen dalam bentuk amoniumnya. Berarti, penambahan bakteri nitrosomonas dan nitrobacter sangat cocok kalau dikombinasikan dengan akuaponik.

Bakteri bioflok berbeda denga nitrosomonas dan nitrobacter. Bakteri yang digunakan dalam bioflok adalah bakteri heterotrof. Jenis bakterinya adalah bakteri bacillus.

Bakteri bacillus tersebut akan memanfaatkan amoniak dan memanfaatkannya untuk berkembang biak membentuk flok. Semakin lama ukuran flok akan semakin membesar dan mengendap di dasar kolam.

Makanya, aerasi yang berfungsi sebagai agitator oksigen juga bermanfaat untuk mengaduk flok ini. Bersama mikroorganisme lain, bakteri akan berkumpul dan membentuk flok. Flok ini bisa dimakan oleh ikan.

Tapi, tidak ada jaminan bahwa ikan lele akan selalu makan flok. Lele memang memakan flok, tapi dalam jumlah yang sedikit.

Karena tujuan dari ternak lele bioflok adalah menciptakan lingkungan yang nyaman bagi ikan lele, jadi jangan berharap banyak kalau lele akan memakan flok. Tumpuan pakan tidak pada flok, tapi pada pakan utamanya, misalnya pelet.

Satu ciri dari sistem bioflok ini adalah bentuk kolam yang bundar/bulat. Desain kolam lele bundar banyak manfaatnya. Di antaranya bentuknya lebih bagus. Dengan bahan terpal dan wiremesh bisa membuat kolam terlihat lebih rapi.

Biaya lebih murah. Kolam terpal persegi panjang dengan penyangga dan gapit bambu memang lebih murah. Tapi dari segi keindahan kurang. Kalau bahannya disamakan dengan kolam bundar, biayanya hampir seimbang, bahkan bisa lebih mahal.

Sistem irigasi kolam bisa dibuat lebih mudah. Dengan membuat dasar kolam cekung di bagian tengahnya dan saluran pembuangan ditempatkan di sana, kotoran akan mengumpul di tengah. Boom, sekali buka, sebagian besar kotoran kolam bisa dikeluarkan.

Tujuan Ternak Lele Bioflok

Memelihara lele dalam bioflok bukan berarti semuanya menjadi lebih mudah dan sederhana. Untuk hasil yang lebih, harus membutuhkan usaha yang juga lebih besar dari biasanya. Itu adalah hukum alam.

Jika ternyata setelah memakai sistem bioflok, kegiatan budidaya lele tidak memberi keuntungan yang lebih, mending kembali saja ke pola lama. Atau menambah ilmunya.

Oleh karena itu pula, bantuan kolam lele bioflok dari KKP ini diikuti dengan pelatihan yang untuk di Sumatera diberikan oleh Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam, Provinsi Jambi. Terkait dengan itu, maka Pesantren Babussalam mengirimkan dua staf pengajar dari SMP Babussalam mengikuti pelatihan tersebut. Beliau adalah Ustad Drs H Supian Ar dan Ahmad Huzaifi BA, Honz.(*)
Tulis Komentar
Berita Terkait