Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kontak Kami
Jalan HR.Soebrantas No.62 Pekanbaru, Riau
(0761) 6700646
pesantrenbabussalam@gmail.com
Teks foto:
Jumat, 29 Mei 2026 | 12 Zulhijjah 1447 H | Dibaca : 15 Kali
Buya Amiruddin dari Sumatera Utara Beri Siraman Rohani Ba'da Solat Subuh
ULAMA asal Sumatera Utara mengisi kajian ba'da Solat Subuh di Pondok Pesantren Babussalam. Beliau adalah Buya Prof Dr KH Amiruddin MS MA MBA PhD.
Kajian Mau'izatul Hasanah itu dilaksanakan pada Ahad, 17 Mei / 29 Dzulqaidah 1447 H di Gedung Serbaguna Haji Ahmad Royan, kompleks ponpes.
Tuan Guru Syekh H Ismail Royan selaku pimpinan pondok langsung hadir. Beliau juga merupakan sahabat dekat dari Buya Amiruddin.
Selain itu juga hadir para kepala sekolah masing-masing unit, majelis guru dan para santri SMP dan SMA Babussalam.
Majelis ilmu ini dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara Ustaz Khairul Akmal SPd dan diakhiri dengan pembacaan doa oleh Ustaz Sultan Baroya.
Materi kajian Buya Amiruddin yang dibawakan cukup beragam mengingat pesertanya juga beragam. Dari santri sampai guru dan karyawan.
Di antaranya berbicara tentang perintah untuk menyayangi orang tua bagi siapa saja. Apalagi orang tua yang masih ada hingga usia uzur.
Lalu beliaupun mencontohkan bagaimana Nabi Ibrahim tidak durhaka kepada ayahnya. Meskipun orang tua Nabi tidak mau diajak beriman kepada Allah SWT.
Kemudian beliau juga mengajak hadirin agar selalu senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Di antaranya dengan rajin melaksanakan ibadah di masjid, memakmurkan masjid. Serta selalu berdoa dan memuji kebesaran Allah.
Di sesi akhir, Buya Amiruddin pun menghadiahkan buku karya beliau kepada Tuan Guru Syekh H Ismail Royan. Buka tersebut berjudul "Indahnya Cahaya Cinta Ilahi: Pendidikan Spiritualitas Insan Muttaqin".
Sipnosis Buku
Di tengah kehidupan yang sering membuat hati lelah dan jauh dari ketenangan, buku ini hadir dan mengajak kita kembali; kembali mengenal Allah, kembali menata hati, dan kembali menemukan makna hidup yang sejati untuk mencapai puncak makrifat.
Ramadan dipaparkan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi sebagai ruang belajar bagi hati dan jiwa; tempat kita melatih kesabaran, membersihkan diri, dan menumbuhkan cinta kepada-Nya. Dari sana, perjalanan batin dimulai dengan muhasabah, hijrah dalam diri, hingga perlahan hati menjadi lebih ikhlas, lebih tenang, dan lebih dekat dengan Allah.
Buku ini juga mengingatkan bahwa kedekatan kepada Allah harus tercermin dalam kehidupan nyata; bukan hanya sebatas zikir. Namun juga menjadi pribadi yang baik, membawa kedamaian, kebahagiaan serta bermanfaat bagi sesama hamba Allah.
Pada akhirnya, semua perjalanan ini mengarah pada satu tujuan, yaitu menjadi “insan muttaqin”. Yang secara luas dimaknai; takwa kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Juga takwa dalam kehidupan sosial.
Sebuah buku untuk semua kalangan agar dibaca dengan hati, dan dijalani dengan kehidupan.(*)