img
Agenda Kegiatan
Fans Page

Gus Ghofur yang Sarat Prestasi, Disertasi Doktor 1.700 Halaman dengan Summa Cumlaude

Dibaca: 124 kali  Selasa,24 Desember 2019 | 04:26:00 WIB
Gus Ghofur yang Sarat Prestasi, Disertasi Doktor 1.700 Halaman dengan Summa Cumlaude
Keinginan Tuan Guru Syekh H Ismail Royan selaku pimpinan Pondok Pesantren Babussalam agar Gus Ghofur bisa memberi wawasan bagi guru dan santri sangat beralasan. Bahkan berharap juga untuk masa yang akan datang secara berkala.

Ini tidak lain karena latar belakang dan rekam jejak (track record) beliau yang pantas diteladani. Berikut sekilas profile beliau.

Gus Ghofur merupakan putra kelima Syaikhina KH Maimoen Zubair dari istri kedua, Ibu Nyai HJ Masthi’ah. Usai lulus dari Madrasah Ghazaliyah Syafi’iyyah, Sarang, Rembang, Gus Ghofur melanjutkan studinya di Al-Azhar University, Kairo, pada 1993. Hal tersebut merupakan suatu yang baru dalam tradisi pendidikan putra-putri Mbah Moen. Belum ada sebelumnya purta-putri Mbah Moen yang melanjutkan studi di perkuliahan.

Progam S1 Fakultas Usuhuludin jurusan Tafsir di Al-Azhar beliau selesaikan selama empat tahun. Semua hasil ujian beliau selalu mendapatkan nilai Jayiid Jiddan (nilai rata-rata antara 8,0 – 8,9). Sebuah prestasi langka di kalangan mahasiswa Indonesia di Kairo. Hal tersebut beliau pertahankan ketika menjalani program S2 di jurusan yang sama, selama dua tahun beliau selalu mendapat hasil akhir Jayyid Jiddan.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, pada 2002 gelar Master berhasil diraihnya. Dikatakan melelahkan karena untuk mencapi gelar itu Gus Ghofur harus menulis tesis setebal 700 halaman dan harus mencantumkan banyak maraji’ alias referensi kitab-kitab tua.

Keberhasilan itu tidak lepas dari ketekunan dan kesabaran beliau yang semakin meningkat selama belajar di Kairo. Ketika di MGS Sarang, beliau memang sudah rajin dan rajinnya beliau ini hanya di ketahui oleh sahabat akrabnya. Akan Tetapi, sejak di Kairo hal tersebut semakin meningkat beliau bisa dan biasa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memelototi kitab. Ketika ketekunan dan kesabaran itu dipadu dengan karunia Allah, kecerdasan, maka prestai akademik adalah sesuatu yang niscaya terjadi.

Tentang hal ini ada kawan yang bercerita, “Sing ngajari bahasa Inggris Gus Ghofur, ki, aku. Eh, pas ujian aku mung Jayyid Jiddan, Gus Ghofur malah mumtaz”. Siapa yang tidak tahu kalau ketika pertama kali datang ke Kairo Gus Ghofur Awam bahasa Inggris. Namun ketekunan dan kesabarannya telah berhasil menjinakkan ujian bahasa Inggris di Al-Azhar.

Padahal tradisi menulis baru ia tekuni sejak tahun keempatnya di Kairo. Orang yang mengenal Ghofur kecil dan tidak mengikuti perkembangannya di Kairo pasti terheran-heran ketika googling “Abdul Ghofur Maimoen” di internet. Sebab hasil googling itu akan menampilkan berbagai tulisan beliau yang pernah dimuat di dunia maya. Ya, dari Abdul Ghofur yang gagap tulis menjadi Abdul Ghofur yang produktif menulis.

Gus Ghofur mengakhiri masa lajangnya pada tahun 2003. Gadis yang beruntung dipersuntingnya adalah Nadia, putri KH Jirijis bin Ali Ma’shum Karpyak Yogyakarta. Dari perkawinannya beliau telah dikaruniai tiga buah hati bernama Nabil, Afaf, dan Aida.

Raih Gelar Doktor Tafsir dari Al-Azhar

Desertasi setebal 1700 halaman dan terbagi menjadi 2 jilid dari Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar. Salah satu kader terbaik Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir ini, kembali mengharumkan nama Indonesia dan menambah deretan peraih gelar Doktor di bidang ilmu tafsir. Ia lulus setelah dapat mempertahankan dari desertasinya yang berjudul Hasyiah Al-Syekh Zakaria Al-Anshary Ala Tafsir Al-Baidhawy, Min Awwal Surah Yusuf Ila Akhir Surah l-Sajdah dengan hasil yang mumtaz ma’a martabati syarafil ula atau summa cumlaude (nilai tertinggi).

Yang menarik adalah prakata dan kutipan akhir sebelum pengukuhan gelar dari para guru besar dan tim penguji terhadap desertasi tersebut adalah “Syarah dan komentar yang ditulis Syeikh Abdul Ghofur ini lebih baik dari yang ditulis Syeikhul Islam, Syekh Zakaria al-Anshori”.

Sementara Rais Syuriyah PCNU Mesir Dr Fadlolan Musyaffa berkomentar, “Ini sungguh luar biasa. Andai ada nilai di atas summa cumlaude, mungkin akan dianugerahkan pada sidang disertasi Gus Ghofur. Sayang, hasil itu sudah mentok paling atas,” terangnya seusai acara.

Desertasi setebal 1700 halaman dan terbagi menjadi 2 jilid ini disidangkan dengan tim pengujinya adalah Prof Dr Muhammad Hasan Sabatan (Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fakultas Ushuluddin Kairo/ penguji dari dalam), Prof Dr Ali Hasan Muhammad Sulaiman (Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fakultas Dirasat Islamiyyah Banin Kairo/penguji dari luar) dan dua pembimbing Prof Dr Sayid Mursi Ibrahim Al-Bayumi (Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fak. Ushuluddin Kairo) dan Prof Dr Abdurrahman Muhammad Aly Uways (Guru Besar Tafsir dan Ulumul Qur`an Fak Ushuluddin Kairo). Selain itu sidang dihadiri sekitar seratusan lebih mahasiswa/i dan simpatisan baik warga Indonesia maupun Mesir.(*)

Ket Foto : Gus Ghofur memperlihatkan buku sejarah tentang Pesantren Babussalam dari Tuan Guru Syekh H Ismail Royan.

Sumber: staialanwar.ac.id
Tulis Komentar
Berita Terkait