Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kontak Kami
Jalan HR.Soebrantas No.62 Pekanbaru, Riau
(0761) 6700646
pesantrenbabussalam@gmail.com
Teks foto: Tuan Guru Syekh H Ismail Royan, Pimpinan Pondok Pe
Jumat, 23 Januari 2026 | 4 Sya’ban 1447 H | Dibaca : 10 Kali
Peringatan Isra’ Mi’Raj 1447 H di Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru
Tuan Guru Nukil Sekilas Kisah dan Hikmah Pertemuan Rasulullah dengan Nabi Adam dan Nabi Musa
TUAN GURU Syekh H Ismail Royan turut menghadiri peringatan Isra’ Mi’raj keluarga besar Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru. Acara berlangsung di Masjid Darussalam, kompleks ponpes, pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Pada kesempatan itu, beliau menukilkan sekilas momen penting ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam berjumpa dengan Nabi Musa Alaihis Salam di langit keenam dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.
Nabi Musa Alaihis Salam menunjukkan empati yang mendalam. Khususnya perihal tugas solat wajib 50 waktu dalam sehari semalam yang diberikan Allah subhanahu wa ta'ala.
Dalam dialog tersebut, Nabi Musa Alaihis Salam menyarankan kepada Rasulullah untuk minta pengurangan kewajiban solat dari Allah subhanahu wa ta'ala. Ada sembilan kali Rasulullah meminta pengurangan tersebut sehingga akhirnya menjadi cukup 5 waktu saja.
Sekarang terbukti, lanjut Tuan Guru, seperti yang diperingatkan Nabi Musa Alaihis Salam. Bahwa melaksanakan solat itu berat dan menjadi krisis bagi banyak orang.
Bahkan Tuan Guru juga mengatakan, perintah solat yang begitu penting dan dijemput langsung oleh Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam ke arsy-Nya, masih juga ada dilalaikan manusia. Padahal kewajiban itu telah dikurangi berkali-kali oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
“Oleh karen itulah, kita di Babussalam selalu berupaya sedapat mungkin melaksanakan solat di awal waktu, berjamaah dan di masjid,” ujar Tuan Guru.
Tuan Guru mengutip kisah ketika Rasulullah berjumpa dengan Nabi Adam Alaihis Salam di langit pertama. Yang menceritakan bagaimana sedih nenek moyang manusia itu melihat banyak keturunnya masuk neraka.
Sehubungan dengan itu, Tuan Guru mengingatkan kembali agar mengikuti semua perintah dan menjauhi semua larangan Allah subhanahu wa ta'ala. Termasuk juga tidak hanya menjalankan ibadah yang wajib saja.
Perlu menambah amalan sunnah lainnya dan dirutinkan. Sebagai bekal kembali untuk hari akhir nanti.(*)