Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kontak Kami
Jalan HR.Soebrantas No.62 Pekanbaru, Riau
(0761) 6700646
pesantrenbabussalam@gmail.com
Teks foto:
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 8 Rabiul Awwal 1448 H | Dibaca : 10 Kali
Majelis Ilmu Bersama KH Muhammad Idrus Ramli, Meyakini Umat Mayoritas yang Selamat
KH MUHAMMAD Idrus Ramli kembali mengisi kajian bulanan di Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru pada Kamis (20/8/2026) pagi. Ini merupakan lanjutan dari kajian bulanan sebelumnya, dengan materi mengacu pada buku karya beliau berjudul “Akidah Ahlussunah Wal-Jamaah Penjelasan Sifat 50”.
Kajian ini turut dihadiri Tuan Guru Syekh H Ismail Royan selaku pimpinan Pondok Pesantren Babussalam. Mejelis ilmu diperuntukkan khusus bagi majelis guru semua unit dan karyawan.
Di antara pembahasannya kali ini adalah tentang munculnya istilah ataupun paham salafi yang marak di akhir zaman. Dijelaskan ustaz bergelar “Pedekar Aswaja” itu, di masa hidup Nabi Muhammad SAW istilah salafi belum ada karena Islam itu satu. Yang masih sesuai dengan yang diajar Rasulullah SAW langsung.
“Jadi istilah salafi itu baru muncul di akhir masa Khulafaur Rasyidin. Terutama setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib,” ungkap beliau.
Setelah masa Khalifah, maka muncul pula kelompok disebabkan beda kepentingan politik. Di antaranya Khawarij, Syiah, Jabariyah, Murjiáh, Qadariayh dan Mu’tazilah. Kelompok inilah yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya kelompok atau sekte dalam Islam yang lebih luas. Yang menurut Hadits Nabi mencapai 73 kelompok. Namun hanya satu kelompok di antaranya selamat.
“Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Al-jamaah yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku.”(HR. Tirmidzi)
Kelompok yang selamat itu disebutkan juga dengan istilah, Al-Firqatun Najiyah. Mereka adalah orang-orang yang berada di atas ajaran atau prinsip yang sama dengan Nabi SAW dan para sahabatnya.
Ciri atau sifatnya antara lain berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, mengikuti pemahaman para sahabat Nabi, tabiin, dan tabi'ut tabiin. Dan, Ahlus Sunnah wal Jama'ah yakni yang diidentifikasi sebagai golongan mayoritas yang lurus akidahnya, bersatu di atas kebenaran, serta menjauhi bid'ah dan perpecahan.
Kyai asal Jember, Jawa Timur itu, meyakini umat Islam di berbagai belahan dunia, dari timur sampai barat, adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Golongan mayoritas yang selamat tersebut.
Hal itu sudah diamati beliau ketika berdakwah di banyak daerah dan kawasan. Baik di tanah air, Asia Tenggara, Asia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika.(*)