Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Senin, 15 Juni 2020 | 23 Syawwal 1441 H | Dibaca : 2317 Kali
Di Bukittinggi, Santri SMP Babussalam Rehat Di Jam Gadang Nan Iconic
Penulis
Reporter
Hari pertama, 5 Maret 2020, kegiatan Ziarah, Studi dan Wisata santri Kelas VII SMP Babussalam belum berakhir.
Sekitar pukul 16.30 WIB, rombongan 162 santri plus 17 ustad/ustazah itu, sampai di titik pusat destinasi terakhir hari pertama. Ya mereka nyantai di Jam Gadang, Pasar Atas, Bukittinggi yang legendaris itu.
Rombongan di objek wisata iconic ini hingga menjelang waktu Maghrib. Dan sampai waktunya shalat para santri dan ustad/ustazah shalat berjama'ah di Masjid Pasar Atas. Usai itu melanjutkan kegiatan yang berkaitan dengan kampung tengah, alias makan malam di RM Sederhana.
Aktivitas pemungkas di hari perdana itu, menuju hotel untuk istirahat. Santri putri menginap di Hotel Ambun Suri dan santri putra Hotel Benteng.
Sekilas Sejarah Jam Gadang
Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang. Dalam bahasa Indonesia berarti "jam besar".
Ukuran dasar bangunan Jam Gadang yaitu 6,5 x 6,5 meter, ditambah dengan ukuran dasar tangga selebar 4 meter, sehingga ukuran dasar bangunan keseluruhan 6,5 x 10,5 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 36 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007.
Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur. Jam digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu untuk Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann. Sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.
Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi peyangga dan adukan semen. Campurannya hanya kapur dan pasir.
Jam Gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rookmaker. Rookmaker merupakan sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Jazid Radjo Mangkuto, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rookmaker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan hingga diresmikan, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol Kota Bukittinggi.
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya.
Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk pagoda. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.
Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah Kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun ke-262 Kota Bukittinggi pada 22 Desember 2010.
Pada Juli 2018, kawasan Jam Gadang direvitalisasi oleh pemerintah. Pengerjaannya memakan biaya Rp.18 miliar dan rampung pada Februari 2019.(Sumber: Wikipedia/*)