img
Agenda Kegiatan
Fans Page

Jamaah Thariqat Itu Saling Bersaudara, Maka Wajib Belajar Nasab Ilmu

Dibaca: 53 kali  Kamis,14 Oktober 2021 | 04:49:00 WIB
Jamaah Thariqat Itu Saling Bersaudara, Maka Wajib Belajar Nasab Ilmu
Tak hanya secara umum bahwa umat Islam itu bersaudara. Namun secara khusus pun sesama Muslim juga bersaudara.

Inilah yang disampaikan Buya Arrazy Hasyim saat bersilaturahim di Pondok Pesantren Babussalam, beberapa waktu lalu.

Bahwa, menurut beliau, sesama jamaah tasawuf ataupun thariqat juga bersaudara. Sudut pandang ini tidak terlepas dari fakta bahwa ajaran thariqat itu bersumber dari guru yang sama.

Menurut beliau, Syekh Abdul Wahab Rokan bersahabat dengan Syekh Ibrahim Kumpulan. Keduanya berangkat ke Haramain (sebutan untuk dua kota suci, Mekkah dan Madinah) bersama, pulang juga bersama.

''Maka berdasarkan itu kita ini murid-muridnya, sebenarnya bersaudara,'' ungkap Buya Arrazy.

Maka, lanjut beliau, setiap orang yang belajar ilmu agama itu wajib belajar nasab ilmu. ''Supaya kita tahu bahwa orang di sudut sana saudara kita juga. Kalau kamu bertemu dengan orang jalur Barubuih (salah satu kawasan penyebaran Thariqat Naqsabadiyah di Sumatera Barat), maka hormati karena mereka saudara kita,'' lanjut beliau mengenang pesan dari guru thariqatnya.

Beranjak ke materi tausiyahnya, Buya Arrazy mengatakan, tasawuf itu objeknya banyak. Dan setiap objek ada dalilnya, ada penjelasannya.

Kebanyakan objek tasawuf yang dipelajari adalah Tazkiyatun Nafs. Yakni penyucian jiwa. Tazkiyatun Nafs itu turunannya zikir dan talkin. Lalu taubat nasuha.

Ada pula tasawuf yang lebih tinggi yakni Tasawuf Ihsan. ''Engkau beribadah maka engkau mengenal-Nya dengan cara engkau melihat-Nya. Jika engkau tak merasa melihat-Nya, maka rasakanlah bahwa Dia melihatmu,'' jelas Buya Arrazy lagi.

Dalam belajar thariqat ada dua teknik yakni Zikir Riyadhah dan Zikir Rabithah. Zikir Riyadhah seperti berzikir, suluk, mujahadah, baca Qur'an, zikir lima ribu, zikir 10 ribu dan lainnya.

Sedang Rabithah artinya mencintai guru. Bukan menyembah guru seperti banyak disalah artikan musuh-musuh tasawuf.

''Karena kita tidak ketemu Nabi, maka kita mencintai pewaris Nabi. Dan guru adalah pewaris Nabi. Buktinya dia punya sanat, punya silsilah. Maka kita cintai beliau karena kita mencintai Nabi. Sebagaimana kita cinta kepada zuriyat (keturunan) Nabi karena kita cinta kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam,'' ungkap Buya Arrazy.

Buya Arrazy pun kembali mengisahkan ketika ayahandanya bersuluk, banyak kejadian yang berhasil suluk itu justru yang tukang masak, bukan orang ambil suluk. Orang belum bangun dia sudah bangun. Sambil melakukan tugasnya ia berzikir sendiri.

''Jadi mohon maaf, suluknya yang ada di negeri kita itu baru belajar suluk. Karena suluk yang benar itu mengurangi makan dan tidur.''

Apa kata Nabi, tanya Buya Arrazy. ''Jika kamu sanggup di pagi hari, di sore hari tidak menyimpan di hatimu rasa benci, iri, dengki kepada siapapun, maka lakukanlah. Itulah sunnah Nabi sallallahu alaihi wasallam.''

Maka itu beliau mengajak para guru mengajar dengan cara qolbu. Caranya sebelum mengajar ajak dulu para siswa atau santri untuk berkoneksi dengan Allah.

''Maka jangan malu-malu memulai dengan baca Alfatihah, atau doa sebelum belajar. Minimal shalawat. Bagi saya itu wajib,'' tukas beliau.(*)
Tulis Komentar
Berita Terkait