Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kamis, 27 Januari 2022 | 23 Jumadil Akhir 1443 H | Dibaca : 1241 Kali
Pak H Saleh Djasit Doakan Ponpes Babussalam Bertahan Hingga Ribuan Tahun
Penulis
Reporter
Selain bernostalgia, dalam kata sambutannya, Pak H Saleh Djasit juga menyampaikan berbagai harapan dan pandangannya ke depan. Di antaranya harapan terhadap Ponpes Babussalam.
Beliau pun teringat pada salah satu universitas tertua di dunia, yakni Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Universitas ini berdiri pada 975 M dan merupakan universitas pertama yang menjadi pusat pembelajaran Islam. (Universitas tertua pertama adalah Universitas Al-Qarawiyyin di Kota Fez, Maroko, 859 M. Kedua universitas tersebut berawal dari sebuah masjid).
Selain terkenal, beliau merasa kagum karena usia lembaga pendidikan tersebut lebih dari 1000 tahun. Sehingga beliaupun berharap ini bisa menjadi acuan bagi lembaga pendidikan Islam lainnya termasuk juga Ponpes Babussalam.
''Insya Allah nanti akan berumur ribuan tahun,'' ujar Pak Saleh yang diaminkan para hadirin.
''Dengan santri yang menyebar ke seluruh nusantara, Riau. Jadi warga negara yang tangguh, hebat,'' lanjut Pak Saleh lagi.
Di mata beliau, Indonesia bisa menjadi kuat karena memiliki kekuatan pada aspek agama. ''Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, Islam. Gambaran Indonesia itu ya bagaimana orang Islam berperan,'' ujar beliau.
''Jadi bangsa ini kekuatannya Islam. Jadi bangsa ini bisa rukun, bisa bersatu, barometernya kita.''
Pak Saleh juga mengucapkan syukur karena selama dua tahun pandemi Ponpes Babussalam
tetap eksis menjalankan tanggung jawabnya. Ini tidak terlepas dari kesungguhan menjalankan protokol kesehatan (prokes), dukungan dari orang tua santri dan berbagai pihak.
Peninggalan dari Allahyarham H Ahmad Royan itu, yang kini diteruskan anak-anak beliau, sudah menjadi aset yang luar biasa bagi Riau.
''Dan kita yang berasal dari Sungai Rokan sana bahagia juga. Saya boleh menyebut 'Itu orang Rokan itu. Itu sahabat saya itu','' komen Pak Saleh.
Pak Saleh dan Allahyarham H Ahmad Royan memang berasal dari daerah yang sama yakni Rokan Hilir. Selain itu, Pak Ismed Harunsyah (ayahanda Brigjen TNI M Syech Ismed) juga berasal dari Rokan Hilir.
Di sisi lain, di era digitalisasi, Pak Saleh mengaku sedang terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Lalu beliau mencontohkan kebiasaan orang tua zaman old yang mengajarkan nilai-nilai kerja keras dan menabung.
''Kalau dulu ayah kita selalu menasehati bahwa kalau mau sukses ya kerja keras. Kalau mau kaya harus menabung,'' sebut Pak Saleh.
''Tapi Lo Kheng Hong, raja saham Indonesia bilang, mau kaya raya tidak usah kerja keras. Sambil duduk di tempat tindur, main komputer, dia dapat triliunan.''
''Saya dulu dikirimi duit di waktu sekolah di Padang, dua minggu baru sampai. Sekarang kalau anak minta dikirimi duit di Jakarta, tak sampai lima menit sampai.''
Adanya perubahan besar nilai-nilai dalam kehidupan sekarang, diakui Pak Saleh, menjadi tantangan tersendiri. Dan ini perlu menjadi perhatian dalam kegiatan wawasan kebangsaan.
Namun beliau juga mengingatkan satu yang bisa menjadi pegangan umat sangat penting, tonggaknya untuk selamat bangsa ini. Seperti pendapat Albert Einstein, ''Ilmu tanpa agama buta. Agama tanpa ilmu lumpuh.''
''Ini kuncinya. Mudah-mudahan bapak-bapak menjadi pelita bagi masyarakat, bangsa kita. Kobarkan tuntut ilmu setinggi-tingginya, agama kita perkuat,'' harap Pak Saleh lagi.
''Karena itulah yang akan menyelamatkan bangsa kita. Mudah-mudahan sekolah ini terus berkembang, jadi tabungan akhirat yang luar biasa bagi pendirinya, bagi penerusnya dan kita menerima manfaatnya. Insya Allah,'' sekali lagi Pak Saleh berharap.(*)