Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kontak Kami
Jalan HR.Soebrantas No.62 Pekanbaru, Riau
(0761) 6700646
pesantrenbabussalam@gmail.com
Teks foto:
Jumat, 19 Juni 2026 | 3 Muharram 1448 H | Dibaca : 21 Kali
Gelar Ratib Saman Sambut 1 Muharram, Berikut Makna dan Zikir yang Dilantunkan
MENYAMBUT Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, keluarga besar Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru menggelar kegiatan Ratib Saman. Dilaksanakan malam jelang masuk 1 Muharram, tepatnya pada Senin, 15 Juni 2026, usai Solat Isya berjemaah.
Ratib Saman ini menjadi agenda rutin di Ponpes Babussalam dalam menyambut hari-hari besar Islam. Kegiatan berisi zikir dan doa tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Haji Ahmad Royan.
Tuan Guru Syekh H Ismail Royan yang juga Mursyid Tarikat Naqsabandiyah Perwakilan Riau, langsung memimpin ibadah tersebut. Dibantu oleh sejumlah pembina yakni Khalifah (Kh) H Jaulli SAg, Kh Muhammad Ali Siregar SPdI dan Kh Jufridin SPdI.
Sementara para peserta terdiri dari para santri SMP dan SMA Babussalam. Juga diikuti para guru, pembina, dan karyawan.
Secara bahasa dan istilah, Ratib Saman diartikan sebagai rangkaian zikir dan doa yang tersusun rapi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dilakukan secara lantang (jahr) dan ritmis bersama-sama.
Makna Ratib Saman Arti "Ratib" (Bahasa Arab): Secara harfiah berarti sesuatu yang tersusun, teratur, atau berurutan. Dalam konteks tasawuf, ratib adalah kumpulan ayat Al-Qur'an, sholawat, dan kalimat zikir yang telah disusun secara sistematis oleh seorang ulama atau guru mursyid untuk diamalkan secara rutin.
Arti "Saman": Kata ini merujuk pada asal-usul metodenya, yaitu dari Syekh Muhammad Samman al-Madani, ulama besar Madinah pendiri Tarekat Sammaniyah.
Metode zikir beliau yang khas —menggunakan suara keras (jahr) serta gerakan tubuh yang ritmis— kemudian diadopsi dan dipadukan ke dalam tradisi Tarekat Naqsabandiyah di Nusantara.
Perpaduan tersebut dipopulerkan oleh Syekh Abdul Wahab Rokan di ulama masyhur di kawasan Sumatera Timur hingga semenanjung Malaya. Beliau juga pendiri dari Kampung Islam Besilam, Tanjungpura, Sumatera Utara. Beliau juga yang mengenalkan Tarikat Naqsabandiyah.
Masyarakat lokal juga kerap mengartikan Ratib Saman sebagai Ratib Tegak berdasarkan cara pelaksanaannya. Karena sebagian besar sesi zikir utama (terutama saat temponya menjadi cepat) mewajibkan jemaah untuk berdiri sambil menggerakkan badan ke kiri, kanan, atau membungkuk secara serempak.
Secara maknawi, ritual ini diniatkan sebagai benteng batin untuk memohon perlindungan dari bala bencana, penguatan iman, serta pembersihan penyakit hati melalui getaran zikir bersama-sama.
Asmaul Husna Ritual ini secara fisik dilakukan dalam bentuk duduk dan berdiri. Saat jemaah berada dalam posisi duduk melingkar di awal ratib, mereka melantunkan puji-pujian yang menyertakan rangkaian Asmaul Husna secara berurutan.
Beberapa nama Allah yang paling sering diucapkan secara lantang meliputi: