Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kontak Kami
Jalan HR.Soebrantas No.62 Pekanbaru, Riau
(0761) 6700646
pesantrenbabussalam@gmail.com
Teks foto:
Sabtu, 27 Juni 2026 | 11 Muharram 1448 H | Dibaca : 8 Kali
Syair Pujian untuk Nabi Muhammad SAW Karya Imam Al-Bushiri, dan Fadilahnya
SATU lagi amalan rutin para santri Pondok Pesantren Babussalam Pekanbaru. Membaca Qasidah Burdah pada setiap Ahad malam dari jam 21.00-22.00 WIB.
Kegiatan rutin pekanan ini berlangsung di Ruang Taklim Asrama. Para santri langsung dibimbing oleh Ustaz Muhammad Maksum Lc, alumni Universitas Washatiyah, Yaman.
"Ada dua maulidan kita laksanakan pada Ahad malam. Pada Ahad pekan pertama dan ketiga membaca Qasidah Burdah. Ahad pekan kedua dan keempat para santri membaca Kitab Adh-Dhiya ul-Lami'," jelas Ustaz Maksum.
Sekilas tentang Qasidah Burdah Secara bahasa, "Burdah" berarti selimut atau jubah.
Secara istilah, Qasidah Burdah adalah karya sastra berupa syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang disusun oleh Imam Al-Bushiri pada abad ke-7 Hijriah.
Berikut adalah inti makna dan sejarah dari Qasidah Burdah:
Isi Syair: Berisi kisah cinta, sanjungan, sifat-sifat agung Nabi Muhammad SAW, serta doa dan munajat. Di dalamnya juga terdapat peringatan untuk mengendalikan hawa nafsu.
Sejarah Singkat: Imam Al-Bushiri menulis syair ini setelah ia sembuh dari penyakit lumpuh berkat bermimpi bertemu dan dipakaikan jubah (burdah) oleh Rasulullah SAW.
Faidah & Tradisi: Di Indonesia, lantunan sholawat ini sangat populer dan sering dibaca rutin (sering disebut Burdahan) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon keberkahan.
Membaca Qasidah Burdah mendatangkan keberkahan berupa terkabulnya berbagai hajat, penyembuhan penyakit dan perlindungan dari bala, serta syafa'at Rasulullah SAW. Selain bernilai pahala, Burdah diyakini sebagai wasilah batin yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Keberkahan utama dari mengamalkan Qasidah Burdah meliputi:
Wasila Permohonan Hajat: Para ulama meyakini Burdah sangat mustajab dibaca saat memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi kesulitan, musibah, atau saat memiliki hajat tertentu.
Kesembuhan dan Perlindungan: Sejarah mencatat qasidah ini pertama kali ditulis oleh Imam al-Busiri untuk menyembuhkan penyakit lumpuh (stroke) melalui mimpi bertemu Nabi SAW. Air yang didoakan dengan bacaan Burdah juga sering digunakan sebagai ikhtiar penyembuhan.
Pembersihan Hati: Bait-bait shalawat dan puji-pujian di dalamnya mengandung energi spiritual tinggi yang diyakini dapat membersihkan hati yang kotor dan meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Fadhilah Khusus: Sejumlah ulama, seperti Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, menyebutkan bahwa membaca Burdah satu kali memiliki keutamaan spiritual seperti membaca kitab shalawat Dalailul Khairat sebanyak 70 kali.
Untuk mendapatkan keberkahan secara maksimal, umat Islam biasanya mengamalkannya dengan istiqamah (rutin), hati yang ikhlas, serta memperbanyak shalawat di dalamnya.(*)