Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kontak Kami
Jalan HR.Soebrantas No.62 Pekanbaru, Riau
(0761) 6700646
pesantrenbabussalam@gmail.com
Teks foto: Ustaz Muhammad Maksum Lc
Rabu, 08 Juli 2026 | 22 Muharram 1448 H | Dibaca : 9 Kali
Tiga Sikap Utama sebagai Muslim dan Muslimah di Era Artificial Intelligence
MATERI Khutbah Solat Jumat pada 3 Juli 2026 di Masjid Darussalam, kompleks Pondok Pesantren Babussalam, menarik dan sangat relevan dengan zaman kekinian.
Adalah Ustaz Muhammad Maksum Lc yang menjadi Khatib pada kesempatan tersebut. Beliau mengangkat tema "Sikap Kita di Tengah Era AI".
AI adalah singkatan bahasa Inggris dari Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan) yang berarti teknologi pada sistem komputer yang dirancang untuk meniru kemampuan intelektual manusia.
AI memungkinkan mesin untuk belajar dari data, mengenali pola, memahami bahasa, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Dijelaskan beliau, Islam tidak pernah alergi terhadap perkembangan zaman. Justru umat Islam diajarkan untuk membaca perubahan zaman dan mengambil manfaat dari perubahan tersebut.
Dilanjutkannya, sejarah mencatat banyak ilmuwan Muslim yang menguasai sains dan teknologi. Antara lain, ada Ibnu Sina yang dikenal dalam bidang kedokteran. Ada Al-Khawarizmi dalam bidang al-jabar, dan Ibnu Haytam dalam bidang optik.
Sehubungan dengan kemajuan zaman tersebut, Khatib alumnus Universitas Washatiyah, Yaman ini mengatakan, ada tiga sikap utama yang perlu dipegang oleh seorang muslim di era AI ini.
Sikap pertama adalah bertabayyun. Secara bahasa, tabayyun berarti mencari kejelasan, menerangkan, atau menyelidiki.
Secara istilah dalam Islam, tabayyun adalah proses verifikasi atau klarifikasi untuk memastikan kebenaran suatu informasi atau berita sebelum mempercayainya atau menyebarkannya lebih lanjut. Sehingga terhindar dari fitnah dan kesalahpahaman.
Perintah untuk melakukan tabayyun tercantum jelas dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 6, yang memerintahkan umat Islam untuk meneliti kebenaran berita yang dibawa oleh orang yang fasik (tidak kredibel) agar tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan.
Sikap kedua adalah menjaga keberkahan ilmu melalui sanad. Secara bahasa, sanad berarti sandaran, pegangan, atau jalan.
Dalam konteks keilmuan Islam, sanad adalah silsilah atau mata rantai para periwayat (orang yang menyampaikan) yang menghubungkan suatu teks ajaran, hadis, atau keilmuan tertentu hingga bersambung langsung kepada sumber asalnya, seperti Nabi Muhammad SAW atau para ulama terdahulu.
Dan sikap ketiga adalah mengasah akal dan mendidik akhlakul karimah. Mengasah akal sangat penting agar manusia tetap menjadi pengontrol teknologi, bukan dikendalikan oleh teknologi.
Sementara itu, mendidik akhlakul karimah (akhlak mulia) berfungsi sebagai kompas moral. Karena AI tidak memiliki empati, nurani, atau kesadaran etis.(*)