Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Kontak Kami
Jalan HR.Soebrantas No.62 Pekanbaru, Riau
(0761) 6700646
pesantrenbabussalam@gmail.com
Teks foto: Ustaz Ahmad Sidiq MPd sedang memberikan tausiah.
Jumat, 31 Juli 2026 | 15 Safar 1448 H | Dibaca : 15 Kali
Motivasi dari Guru yang Dikenal Rendah Hati dan Visioner: Inspirasi Kehidupan dari Sebatang Pohon
SUASANA Jumat pagi di kampus hijau SMA Babussalam Pekanbaru dipenuhi lantunan ayat suci, kepedulian, dan pesan mendalam tentang makna menjadi manusia yang berguna bagi sesama.
Jumat, 31 Juli 2026 bertepatan dengan 16 Shafar 1448 Hijriah, special event Jum’at Kubro Inspiratif (JKI) kembali digelar. Kali ini menjadi panggung penting bagi hadirnya motivasi yang menyentuh hati dari seorang guru yang dikenal rendah hati dan visioner: Ahmad Sidiq MPd, guru mapel Biologi.
Puncak acara terjadi ketika Ustaz Ahmad Sidiq MPd menyampaikan motivasi sekaligus pencerahan kepada seluruh peserta. Dengan gaya tutur yang tenang namun mengena, beliau mengajak para santri merenung tentang satu hal penting: menjadi manusia yang berguna bagi orang banyak.
Beliau mengilustrasikan kehidupan manusia melalui sebatang pohon. Pohon yang awalnya kecil, perlahan tumbuh, menguat, dan akhirnya berbuah. Semakin besar pohon itu, semakin banyak manfaat yang diberikannya.
- Memberikan kerindangan bagi siapa saja yang berteduh di bawahnya. - Menghasilkan oksigen yang menyejukkan dan menopang kehidupan. - Mengeluarkan buah yang dapat dinikmati banyak makhluk, termasuk manusia.
Melalui ilustrasi tersebut, Ahmad Sidiq mengajak para santri bercermin: sudahkah diri kita tumbuh menjadi “pohon kehidupan” yang menghadirkan manfaat, bukan sekadar indah dilihat namun hampa kontribusi?
Jangan Jadi Lilin yang Terbakar Sendiri Dalam bagian lain motivasinya, beliau menyampaikan analogi yang menggugah: jangan menjadi seperti lilin yang hanya mampu memberi cahaya untuk orang lain, tetapi dirinya habis terbakar tanpa arah.
Lilin memang bermanfaat. Namun ia mengorbankan dirinya tanpa mendapat keluhuran makna selain habis tanpa sisa.
Beliau menekankan bahwa insan beriman dan berilmu semestinya mampu mengambil peran seperti pohon: bermanfaat bagi lingkungan, sesama, dan dirinya sendiri.
Manusia yang matang bukan hanya menjadi penolong. Tetapi juga menjaga dirinya agar tetap kuat, sehat, dan berdaya untuk terus menebar kebaikan.
Pesan ini menjadi pengingat halus bagi para santri agar tidak sekadar sibuk “menyenangkan orang lain”. Namun lupa membangun karakter, kompetensi, dan kedekatan dengan Allah sebagai sumber kekuatan sejati.
Penuh Keberkahan Sejak pagi, para santri putra dan putri berkumpul dengan tertib di area kegiatan. JKI kali ini disusun dengan rangkaian acara yang sarat nilai ruhiyah dan sosial.
- Pembacaan surat Al-Kahfi 10 ayat pertama dan 10 ayat terakhir yang menguatkan iman dan daya tahan hati di tengah derasnya ujian zaman. - Ceramah agama dari perwakilan santri putra dan putri, menjadi wadah latihan kepemimpinan, keberanian berbicara, dan kedalaman berpikir di hadapan khalayak ramai. - Infaq Jum’at yang mengasah kepekaan sosial, menumbuhkan kebiasaan berbagi sejak dini, dan melatih santri untuk tidak hanya kaya ilmu, tetapi juga kaya empati
Rangkaian tersebut menegaskan karakter JKI sebagai program yang bukan sekadar rutinitas. Tetapi ikhtiar terencana untuk membentuk generasi berakhlak, berilmu, dan peduli.(*)