Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Sabtu, 13 Juni 2015 | 25 Sya’ban 1436 H | Dibaca : 4215 Kali
Pak Tito, Kabid Kesos: Tak Salah Kami Memilih Ponpes Babussalam
Penulis
Reporter
Kunjungan tamu dari Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (Bakor Pembang) Wilayah IV Provinsi Jawa Barat ke Pondok Pesantren Babussalam, tidak sia-sia. Mereka mengaku apa yang diinginkan sudah didapatkan dari Ponpes Babussalam.
''Kami mendapatkan apa yang kami cari. Saya tak salah memilih Pondok Pesantren sebagai tujuan dari kunjungan kami kali ini,'' ujar Pak Tito Suharwanto, pimpinan rombongan yang juga Kepala Bidang (Kabid) Kesejahteraan Sosial (Kesos) pada Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (Bakor Pembang) Wilayah IV itu. Kunjungan itu berlangsung Kamis, 11 Juni 2015.
Bakor Pembang merupakan perpanjangan tangan dari Pemprov Jabar yang memiliki wilayah kerja 11 kabupaten/kota. Fungsi badan ini merupakan monitoring, koordinasi, dan fasilitasi. Bidang Kesos membawahi lembaga keagamaan seperti pesantren dan lainnya. Menurut Pak Tito di Indonesia hanya tinggal tiga provinsi di luar Jabar yang mempertahankan badan ini; Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.
Yang menjadi acuan dari pendapat Pak Tito di atas adalah apa yang sering disebutnya dengan bersih, hijau dan juara. Pertama kali masuk ke kompleks Ponpes di bawah binaan Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan itu, beliau sudah melihat lingkungan ponpes yang bersih dan hijau. Baginya, bersih lingkungan pondok juga mencerminkan bersihnya hal atau urusan lain seperti ruang, asrama dan administrasinya.
Pandangan beliau itu semakin mantap ketika mamasuki ruang serba guna Gedung Haji Ahmad Royan yang berada di antara Masjid Darussalam dan Rumah Hijau. Beliau juga menilai gedung ini indah dan nyaman. Menurutnya, jarang sekali ada ponpes yang memiliki gedung indah dan bagus seperti ini.
Pak Aher KW II, julukan untuk Pak Tito dari para stafnya karena mirip dengan Gubernur Jabar itu, juga menilai penghijauan sudah bagus. Tapi mantan guru sekolah luar biasa ini, turut memberi saran agar ditambah pohoh atau tanaman lainnya.
Saat berkunjung ke SMA Babussalam, beliau juga menyarankan agar dibuat sumur resapan. Selain membuat tanah semakin subur juga sebagai cadangan air di saat kemarau. Itu sudah pernah dilakukannya meski awalnya banyak yang tak mendukung.
Untuk tiga slogannya ini, Pak Tito juga buat kontrak kerja untuk kepala sekolah di bawah binaannya. Baginya tidak perlu bicara mutu dulu jika tidak mau bersih dan hijau. ''Bersih hijau dulu baru bicara juara. Jika tidak bisa ya diganti,'' kata Pak Tito.
Mantan guru yang sudah berpengalaman puluhan tahun ini, pihaknya juga mendapatkan banyak pelajaran di Ponpes Babussalam. Misalnya dari apa yang disampaikan Ustad Ahmad Hamidi, pengurus yayasan, yakni menjaga wuduk, menjaga sholat, menjaga zikir, menjaga lisan dan menjaga perut.
Ajaran Tharikat Naqsabandiyah coba dilakoni di Ponpes Babussalam tentu dengan batas-batas tertentu. Di antaranya dengan mewajibkan para santri sholat berjamaah lima waktu di masjid.
Pihak yayasan juga punya kebijakan tidak boleh masjid kosong setiap sholat lima waktu terutama dari santri. Makanya tidak semua santri laki-laki bisa pulang serentak saat jadwal pulang ke orang tua.
Selain itu, Pak Tito melihat pula demokratisnya sikap yayasan yang tidak memaksakan paham Naqsabandiyah dijalankan. Atau tidak mengharuskan para guru dan staf mengikuti ajaran yang dibawa Syekh Abdul Wahab Rokan ini.
''Ini masukan yang bagus untuk kami bawa pulang,'' ungkap Pak Tito lagi.(li)