img
Agenda Kegiatan
Fans Page

Padang Dan Sekitarnya Destinasi Hari Ketiga, Termasuk Masjid Raya Sumbar Nan Unik

Dibaca: 67 kali  Jumat,19 Juni 2020 | 09:07:00 WIB
Padang Dan Sekitarnya Destinasi Hari Ketiga, Termasuk Masjid Raya Sumbar Nan Unik
Ada beberapa destinasi yang menjadi agenda peserta Ziarah, Studi dan Wisata Kelas VII SMP Babussalam di hari ketiga, 7 Maret 2020.

Yang utama adalah Masjid Raya Sumatera Barat yang terletak di Kota Padang. Berikutnya bermain di Wahana Air Mega Mendung, visit Pantai Padang dan tentu check ini di Hotel Padang untuk istirahat kan.

di-masjid-raya1-ok

Tentu saja semua agenda tersebut harus dimulai dari sarapan plus check out dari hotel di Bukittinggi. Dari situ baru trip to Mega Mendung Lembah Anai, yang berlokasi di jalan raya Kota Padang Panjang to Padang. Kawasan ini jadi lokasi transit atau seperti rest area dengan fasilitas utama banyak kolam renang dengan air nan jernih dan dingin.

di-mega-mendung-ok

Menjelang tengah hari, barulah rombongan cabut dari lokasi wisata tersebut. Namun sebelum masuk Kota Padang peserta menikmati dulu makan siang di satu restoran yang populer karena banyak cabangnya; RM Lamun Ombak Lubuk Alung.

Usai dari situ baru para santri menuju masjid kebanggaan urang awak, Masjid Raya Sumatera Barat. Jadi ikon baru Kota Padang sekaligus Provinsi Sumatera Barat.

masjid-raya-sumbar-ok

Ini adalah Masjid terbesar di Sumatera Barat yang terletak di Jalan Chatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007 dan pembangunannya tuntas pada 4 Januari 2019 dengan total biaya sekitar Rp325–330 miliar. Sebagian besar berasal dari APBD Sumatera Barat. Pengerjaannya dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dari Provinsi.

Konstruksi Masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang shalat terletak di lantai atas, memiliki teras yang melandai ke jalan. Denah Masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya. Ini mengacu pada bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.

Menurut rencana awal, Masjid Raya Sumatera Barat akan dibangun dengan biaya sedikitnya Rp500 miliar karena rancangannya didesain dengan konstruksi tahan gempa. Kerajaan Arab Saudi pernah mengirim bantuan sekitar Rp500 miliar untuk pembangunan Masjid, tetapi karena terjadi gempa bumi pada 2009, peruntukan bantuan dialihkan oleh pemerintah pusat untuk keperluan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana. Pada 2015, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meminta anggaran pembangunan dipangkas. Pemangkasan anggaran membuat desain Masjid berubah di tengah jalan, termasuk pengurangan jumlah menara dari awalnya empat menjadi satu.

Gagasan pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat bergulir sejak 2005. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menganggap Padang selaku ibu kota tidak memiliki masjid yang representatif untuk menampung jemaah dalam jumlah banyak. Dorongan untuk membangun "Masjid Raya" menguat, walaupun terdapat Masjid Nurul Iman yang berukuran besar di Padang. Pada Januari 2006, berlangsung pertemuan bilateral antara Indonesia dan Malaysia yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi di Bukittinggi. Saat itu, panitia kebingungan mencari Masjid yang tepat bagi kedua kepala negara untuk melaksanakan shalat Jumat, sehingga dipilih lokasi Masjid Agung Tangah Sawah di Bukittinggi. Peristiwa ini disebut menjadi pelecut bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk membangun Masjid Raya Sumatra Barat.

Sewaktu pemilihan lokasi, sempat muncul usulan agar Masjid baru dibangun di lokasi Kantor Gubernur di Jalan Sudirman. Namun, karena alasan nilai historis gedung tersebut, disepakatilah lokasi di Jalan Chatib Sulaiman, menempati area seluas 40.343 meter persegi. Area ini merupakan lokasi Sekolah Pembangunan Pertanian (SPP) Padang, yang nantinya dipindahkan ke lokasi baru di Lubuk Minturun. Pada 2006, pemerintah provinsi menggelar sayembara membuat rancangan masjid. Sayembara diikuti oleh 323 peserta dari berbagai negara. Sebanyak 71 desain masuk dan selanjutnya diseleksi oleh tim juri yang diketuai oleh sastrawan Wisran Hadi. Pemenang sayembara diumumkan pada September 2006 dan mendapatkan hadiah Rp150 juta dari total hadiah Rp300 juta.

Hasil sayembara dimenangkan oleh tim yang diketuai arsitek Rizal Muslimin. Rancangannya berupa bangunan persegi yang alih-alih berkubah tapi justruk membentuk gonjong. Pasca-pengumuman, rancangan hasil sayembara sempat menuai polemik, terutama disuarakan oleh DPRD Sumatera Barat. Ketua DPRD Sumbar Leonardy Harmainy menyebut rancangan masjid tidak lazim lantaran tidak memiliki kubah. Polemik terkait kubah mengakibatkan tertundannya rencana pembangunan dan berujung buntu. Polemik baru mereda setelah terjadinya gempa bumi pada 13 September 2007. Di tengah beralihnya fokus publik pada gempa, Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat pada 21 Desember 2007.(*)
Tulis Komentar
Berita Terkait