Yayasan Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat ini dipimpin oleh Syekh Haji Ismail Royan, didirikan pada tanggal 21 November 1979 yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1400 H.
Senin, 21 Februari 2022 | 19 Rajab 1443 H | Dibaca : 1371 Kali
Tugaskan 100 Hafidz Khusus Bacakan Al-Qur'an Untuk Orang Tuanya
Penulis
Reporter
Pak Mardani H Maming juga punya sisi lain yang pantas menjadi contoh generasi muda sekarang. Selain pengusaha sukses, ternyata beliau juga sosok yang sangat menghormati orang tua dan guru.
Ini pun dikisahkan beliau kepada para santri SMA Babussalam dalam kuliah umum beberapa waktu lalu.
''Orang tua kita yang sebenarnya luar biasa. Jangan lupa doa orang tua dan juga guru-guru kita. Kalau mau sukses minta doa pada orang tua dan guru kita,'' ujar beliau.
Lalu beliau pun berkisah pengalamannya bersama orang tuanya. Di antaranya
beliau teringat ketika dimarahi ibundanya, karena gagal mengemban amanah memegang bisnis pelabuhan. Padahal itu harapan keluarga. Beliau pun dengan jujur mengatakan karena terpengaruh narkoba.
''Pada 2001 bangkrut. Ibu saya marah. Itu menjadi titik balik. Saya harus bangkit,'' kenang Pak Mardani lagi. Semenjak itu, secara perlahan beliau bangkit.
Pada 2016 beliau harus kehilangan bapaknya untuk selamanya. Beliau pun mengenang upaya pengobatan yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya, yang sampai ke Jakarta dan Singapura.
Menurut Pak Mardani, bapaknya ingin dimakamkan di dekat orang tuanya. Tapi beliau tahu bahwa permakaman tersebut sudah padat. Maka sebelum berobat ke Jakarta dan Singapura, beliau pun membawa bapaknya ke lahan seluas 20 hektare, masih hutan di atas gunung dekat sungai.
''Saya bilang, 'Pak, nanti kalau meninggal saya kubur di sini mau ndak.. Ya udah di sini saja katanya','' ujar Pak Mardani mengenang.
Setelah upaya pengobatan ke Jakarta dan Singapura akhirnya bapaknya wafat. Maka beliau pun membawa pulang ke Batulicin, ibu kota dari Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Dan dimakamkan di tempat di hutan tadi.
Yang luar biasanya, sejak dimakamkan hingga sekarang tak putus para hafidz membacakan Al-Qur'an di makam tersebut. Pada awalnya hanya oleh tujuh hafidz. Tapi sekarang sudah oleh 100 hafidz.
''Dari dulu hutan dan sekarang jadi tempat hafidz Qur'an. Tugas mereka hanya membacakan Qur'an untuk bapak saya,'' ujar beliau yang disambut tepuk tangan hadirin.
Selain itu adalah kebiasaan Pak Mardani di makam orang tuanya tersebut. Yakni setipa Jumat beliau selalu berziarah ke sana. Dan jika ada persoalan yang membebaninya, beliau pun berzikir di makam tersebut.
''Saya yakin semua yang di depan ini, punya kesempatan yang sama seperti saya. Tinggal kita mengemasnya seperti apa. Jangan lupa minta doa sama orang tua kita dan para guru kita,'' ajak beliau lagi.(*)